Ningning


Ningning, nama kucing kesayanganku yang sudah 3 bulan tidak ada kabarnya.
Aku penasaran dimana dia sekarang. Di pelukan yang lebih hangat kah atau lebih jauh dari itu?

Ningning adalah kucing kampung berwarna orange yang biasa-biasa saja, yang spesial darinya mungkin hanya buntutnya yang panjang. Akhlaknya juga tidak baik sama sekali, dia super jutek dan cuek dengan siapa saja. Kalau kalian menyapanya jangan berharap dia sapa balik, memandang kalian pun dia tak sudi.

Sebelumnya aku bukan gadis pencinta binatang, jangankan kucing sama semut pun aku geli. Orang-orang yang sudah lama mengenalku sudah pasti tau betapa histerisnya aku setiap melihat kucing mendekatiku.
Lalu aku berkenalan dengan pria yang berhati hangat, dia sangat menyukai kucing. Dia senang sekali mengirimiku foto-foto dan video kucing, lama-lama aku mulai tersugesti dan berpikir ternyata kucing tidak semenakutkan yang selama ini aku bayangkan. Dari situ aku mulai biasa-biasa saja setiap melihat ada kucing dekat-dekat denganku, tapi tetap tidak berani menyentuhnya.

Sampai akhirnya ada kucing kecil masuk ke dalam rumah, mungkin usianya sekitar satu bulanan. Abah memberinya makan. Aku berlalu saja tidak peduli.
Sebenarnya orang tuaku bukan tipe manusia yang bisa memelihara binatang, kalau hanya sekadar memberi makan sih sering sekali. Tapi entah kenapa si anak kucing orange ini terus-terusan datang dan kami pun mulai terbiasa dengan kehadiran dia. Hanya saja kalau malam dia tidak boleh masuk, jadi setiap malam rumahnya adalah Puskesmas samping rumahku.
Kalau di rumah, dia paling senang nongkrong di karpet busa depan tipi atau di kamarku. Ngapain lagi dia selain males-malesan. Karena hobi kami sama, aku mulai akrab dengannya. Aku sering mengajaknya ngobrol, aku juga sering menyuruhnya memijat punggungku dan dia mau-mau saja. Saat dia mulai besar aku memberanikan diri untuk memotong kukunya, karena makin lama cakarannya lumayan sakit.

Kalau ku pikir-pikir aku banyak sekali kesamaan dengannya, sama-sama suka tidur, suka makan, berhati dingin dan super moody. 
Aku tidak menyayanginya sepanjang waktu adakalanya kami saling acuh, tapi kalau kangen ya pelukan.

----
3 bulan yang lalu dia pergi tanpa pamit, ku kira dia cuma main sebentar ke Puskesmas atau melakukan kebiasaannya menguntit kucing perempuan yang baru-baru ini dia taksir.
Aku kenal sekali Ningning, kalau dia sudah naksir satu kucing ia akan mengikutinya kemanapun kucing perempuan itu pergi, benar-benar overprotektif. Tidak jarang kucing yang ia taksir merasa terganggu dan meneriakinya, tapi Ningning bak pria yang sabar selalu diam kalau dimarahi. Dasar kucing BUCIN!
Beda sekali kalau aku yang memarahinya dia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencakar dan menggigitku, kadang sampai terlihat seperti ingin menelanku hidup-hidup.

Satu-satunya orang yang dia takuti di rumah hanyalah Abah, kalau abah menegurnya sekali dia langsung nurut. Mungkin karena abah yang selalu memberi dia makan dengan teratur jadi dia segan menunjukkan sisi bar-bar dan anarkisnya ahahha.
Kalau sehari dua hari Ningning tak pulang itu hal yang biasa, anak laki-laki kan memang begitu tidak suka dibatasi, lagian dia juga akan pulang sendiri kalau sudah lapar dan habis duit. (oke abaikan yang terakhir)
Tiga hari berlalu, Ningning belum pulang. Abah mulai mencari-cari ke sekitaran rumah dan seberang jalan, tapi tidak juga terlihat buntut panjangnya. Tidak biasanya dia menghilang selama ini, aku sedikit takut dia terjebak pergaulan bebas lalu kabur dari rumah, sampai ku urungkan niatku menghubungi teman-temannya karena aku tau mana mungkin kucing punya handphone.

Aku tidak berani berpikir dia mati, karena aku pasti menangis. Lagipula kalau mati pasti ada bangkainya, kan tidak ada, berarti dia masih hidup. Sampai hari ini aku masih berharap dia bisa menemukan jalan pulang, kami sekeluarga sudah siap menerima kalau-kalau dia pulang dengan anak istrinya.

Ah, aku kangen Ningning.
Pulanglah, aku butuh teman tidur siang. :(

Comments

Popular posts from this blog

Hallo